Wednesday, April 27, 2016

TOKOH SI KABAYAN Penulis :Pustakawan Madya Pada ISBI Bandung

TOKOH  SI  KABAYAN
Penulis :Pustakawan Madya Pada ISBI Bandung

Cerita Si Kabayan tidak dapat disangkal lagi dikenal sebagai salah satu cerita jenaka (cerita humor) di dunia yang ‘abadi’. Sejajar dengan itu adalah cerita Nasrudin Hoja dan Cerita  Abu Nawas. Dua cerita terakhir sudah sangat dikenal luas di dunia, sementara Cerita Si Kabayan sedang dalam proses mendunia. Kedua cerita terakhir sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia. Akan tetapi, Cerita Si Kabayan baru diterjemahkan ke dalah bahasa Inggris oleh Magareth Muth Alibasah (1975).

Cerita Nasrudin Hoja dan Cerita Si Kabayan sama-sama memiliki cerita yang bermotif pencarian ketuhanan. Motif cerita tersebut tentu dikemukakan dengan cara yang jenaka pada kedua cerita tersebut.

Di Nusantara, Cerita Si Kabayan termasuk cerita yang benar-benar dapat bertahan dalam gempuran media populer saat ini. Bahkan melalui media TV Cerita Si Kabayanmelanggerkan keabadiaannya. Pada tahun terakhir ini (2012) Cerita Si Kabayandisiarkan dalam stasiun televisi Indosiar degan Judul Si Kabayan Anak Betawi. CeritaSi Kabayan ini sangat unik bila dibandingkan dengan Cerita-cerita Si Kabayansebelumnya. Pertama, cerita ini berlatar masyarakat Betawi yang plural. Sementara Cerita-cerita  Si Kabayan yang ada sebelumnya dan selama ini umumnya berlatar di tanah Priangan. Kedua, tokoh utama Si Kabayan dalam cerita ini adalah tokoh anak kecil dengan kejenakaan dan ‘kesaktiannya’. Sementara dalam Cerita Si Kabayanyang lain sebelumnya (cerita lisan, komik, sandiwara, maupun film) umumnya Si Kabayan digambarkan sudah dewasa. Ini kasus yang menarik.
Cerita-cerita jenaka lainnya di Nusantara umumnya sudah mulai memudar, bahkan beberapa sudah ‘mati’. Cerita-cerita tersebut hanya menjadi objek studi para peneliti (Radzi, 2000). Misalnya cerita Joko Bodo di Jawa dan cerita jenaka lainnya sepertiPak Belalang dan lainnya di tanah Melayu.

Mungkin itulah sebabnya Snouk Hourgronye (1997) pada abad ke 19 menyatakan bahwa Cerita Si Kabayan menjadi semacam pusat siklus cerita-cerita jenaka di Nusantara. Pada masa itu ia tidak meramalkan Cerita Si Kabayan akan menjadi cerita jenaka yang abadi di Nusantara, bahkan di dunia.
Keabadian Cerita Si Kabayan itu tampak pada bentuk-bentuk pengaliwacanaan atau transformasi ke dalam tradisi tulis, maupun ke dalam tradisi kelisanan kedua seperti pada drama dan film. Tokoh Si Kabayan sendiri  demikian terkenalnya sehingga menjadi judul acara Si Kabayan Nyintreuk (STV) atau bahkan menjadi merek dagang beberapa rumah makan di tanah Priangan dan di Jakarta.Masalahnya sekarang adalah mengapa Cerita Si Kabayan ‘abadi’? Akankah keabadian itu ‘sempurna’ di tengah gempuran arus globalisasi?

Hakikat Cerita Si Kabayan sebagai Cerita Jenaka/ Cerita Humor
Cerita Si Kabayan dalam tradisi lisan menjadi sumber inspirasi, sumber penciptaan Cerita Si Kabayan dalam tradisi tulis maupun dalam tradisi keisanan kedua. Cerita Si Kabayan dalam tradisi lisan itu menjadi semacam blue print juga dalam tradisi lainnya. Akan tetapi,  dalam Cerita Si Kabayan kemudian terjadi pula pemutarbalikan terhadapnya (Suwarna, 1985; Abby, 1985).Sekalipun demikian, keseluruhan Cerita Si Kabayan pada ketiga tradisi itu, apakah yang linier maupun yang tidak linier pada hakekaktnya tetaplah sebagai cerita jenaka, sebagai cerita humor. Berdasarkan riset yang penulis lakukan dari yang ditulis oleh Ardiwinata (1910) hingga ke film Si Kabayan Anak Betawi (2012) dan yang tersebar dalam tradisi lisan  kesemuanya adalah cerita jenaka/ cerita humor.

Hal yang menghubungkan keseluruhannya adalah kejenakaan/ humor. Hanya pada karya Godi Suwarna (1985) dan Rosyid E. Abby (1985)  keduanya bukan lagi menjadi ‘humor yang biasa’ tetapi sudah menjadi satir.Yang amat peting dikatakan disini adalah kesanggupan Cerita Si Kabayan sebagai sebuah struktur cerita amatlah memiliki kelenturan (flexybility) yang luar biasa. Struktur Cerita Si Kabayan dapat diubah, dimodifikasi, bahkan dijungkirbalikkan sedemikian rupa tetaplah ia sebagai sebuah cerita jenaka. Demikian pun ketika Cerita-cerita Si Kabayan itu dialihwacanakan dalam berbagai tradisi.Fleksibilitas struktur Cerita Si Kabayan  yang demikian itu terutama karena fakta utamannya adalah tokoh Si Kabayan. Tokoh Si Kabayan memiliki ambivalensi yang sedemikian rupa yang membedakannya dengan tokoh-tokoh cerita dalam tradisi lisan yang umumnya hitam-putih. Pekara ambivalensi tokoh Si Kabayan akan diuraikan pada bagian berikut.
Kata Kunci: Fiksi, Kabayan, Sunda

No comments:

Post a Comment