Wednesday, April 6, 2016

Sisingaan Di Kabupaten Subang Dewasa ini

Sisingaan Di Kabupaten Subang Dewasa ini = (Suatu Telusuran Grounded Tentang Konsep-konsep Sisingaan) /Oleh M. Nana Munajat Dahlan

Salah satu kesenian tradisi Kabupaten Subang yang masih memperlihatkan eksistensinya adalah kesenian Sisingaan.  Dewasa ini kesenian Sisingaan masih menghiasi ritual hajat selamatan khitanan, serta telah menjadi paket pertunjukkan. Gaungnya Sisingaan, telah merambah tatar Jawa Barat bahkan nasional.

 Penyebarannya melampaui batas wilayah administratifnya, merasuk masuk ke daerah lain seperti ke Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Sumedang, Purwakarta, Karawang, Bekasi, Bogor, DKI Jakarta dan daerah lainnya. Kesenian ini, kini telah menjadi warna khas, bahkan telah menjadi identitas daerah. Pada akhir tahun 2014 oleh kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah ditetapkan sebagai kesenian warisan budaya nasional.

Wajah Sisingaan  kiwari (pada saat ini) tampak berbeda dengan Sisingaan “kamari, dan “bihari”  (kemarin dan masa lampau), baik dari sisi bentuk fisik maupun makna dan fungsinya. Perubahan yang terjadi  mengalir secara alami, bagai rumput yang tumbuh di pinggir jalan, jadi secara alami, berkembang secara alami pula. Faktor penyebabnya adalah adanya   pengaruh   eksternal dan internal.

Munculnya perubahan dalam kesenian Sisingaan erat hubungannya dengan pengaruh dari difusi budaya dan kreativitas pelaku seninya. Diterimanya unsur kebudayaan luar merupakan cerminan karakteristik masyarakat Subang, yang memandang seni tradisi itu elastis, lentur, seperti dirinya yang penuh kelenturan adaptif dan terbuka pada kebudayaan luar.

Dari kondisi seperti ini lahir konsep bentuk pertunjukan dan konsep estetika baru Sisingaan. Ini menarik untuk dijadikan objek penelitian mengingat permasalah tersebut belum pernah diungkap oleh peneliti lain.  Untuk menungkap permasalahan tersebut  peneliti  menggali dari realitas pentas Sisingaan dengan menggunakan pendekatan  grounded theory .

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada saat ini Sisingaan memiliki konsep baru baik bentuk pertunjukannya maupun estetikanya. Konsep bentuk pertunjukannya  terdiri dari Ponga (jaipongan Sisingaan) Ngojegkeun, Dukrak (ngadiukeun : mendudukan sebelum ngarak), dan Karédok.

Sedangkan  konsep estetikanya terdiri dari Gandang (secara fisik dan garapan pertunjukannya mengundang daya pukau). Ginding dandanannya  memancarkan kemegahan dan kemewahan. Gandes bagus dalam menyajikan pertunjukan, Gilap tampak gemerlap, Goyobod  murah meriah tetapi syarat isi dan makna, dan Gudumbrang yakni sangat sempurna tanpa cacat.  

Dengan bergesernya bentuk dan tuntutan estetika, secara fungsi dan makna pun turut berubah, Kini fungsi dan makna Sisingaan yang pada awalnya syarat dengan nilai-nilai spiritual cenderung mengarah kepada kepentingan showbiz dan hedonis.  

Kata Kunci :  Perubahan ,Konsep, Fungsi dan makna.


No comments:

Post a Comment