Thursday, April 28, 2016

Kreativitas Mang Koko Dalam Karawitan Sunda Penulis: Tardi Ruswandi

Kreativitas Mang Koko Dalam Karawitan Sunda
Penulis: Tardi Ruswandi

Mang Koko yang nama lengkapnya H. Koko Koswara, lahir di Indihiang Tasikmalaya,Provinsi Jawa Barat (Indonseia), pada tanggal 24 November 1915. Akan
tetapi pada waktu masuk sekolah formal, kelahirannya dirubah menjadi 10 April 1917 (Tatang Sumarsono, dalam Tardi, 2007:3). Dalam lingkungan keluarganya, Mang Koko merupakan anak tunggal dari pasangan suami istri Mochamad Ibrahim dengan Siti Hasanah. Sedangkan pendidikan formal yang ditempuh Mang Koko adalah HIS (Holands Inlandsche School) setingkat dengan Sekolah Dasar (SD), lulus ndan berizasah 1932 serta MULO (Meer Uitgebruid Lager Onderwjs) setingkat
dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP), lulus dan berizasah 1936.

Pekerjaan yang pernah dilalui Mang Koko selama hidupnya adalah sebagai berikut: Pertama, Mang Koko bekerja sebagai karyawan Bale Pamoelangan
Pasoendan (Paguyuban Pasundan) bagian pendidikan. Kedua, pada tahun 1940 ia memilih bekerja di sebuah Bank yang bernama ‘De Javasche Bank’. Ketiga, pada
tahun 1942, Mang Koko pindah lagi menjadi pengurus advertensi (iklan) di Harian Cahaya Shimbun. Keempat, pada tahun 1945, ia bekerja sebagai administratur
Harian Suara Merdeka Bandung, dan pada zaman revolusi, harian tersebut pindah ke Tasikmalaya. Kelima, pada tahun 1950 hingga tahun 1961, Mang Koko bekerja di
Jawatan Penerangan Propinsi Jawa Barat. Keenam, pada tahun 1959, ketika Mang Koko masih bekerja di Jawatan Penerangan, ia bersama-sama dengan temannya mendirikan dan sekaligus memimpin Yayasan Cangkurileung yang tersebar hampir di seluruh Kabupaten dan Kotamadya se Jawa Barat. Anggotanya anak-anak sekolah dasar dan menengah. Ketujuh, pada tahun 1961 Mang Koko mengajar di KOKAR (SMKI) Bandung, bahkan selama 6 tahun hingga pensiun (1966-1972) ia menjadi direkturnya. Kedelapan, ketika Mang Koko memimpin KOKAR, pada tahun 1971 ia mendirikan ASKI (Akademi Seni Karawitan Indonesia) swasta, yang merupakan cerminan ketidaksabarannya menantikan kehadiran pendidikan tinggi karawitan
negeri. Pada waktu itu, Mang Koko dipercaya sebagai direkturnya. Kesembilan, pada tahun 1974 yaitu setelah pensiun dari KOKAR Bandung,

Mang Koko diangkat menjadi dosen Luar Biasa dan sekaligus diberi tugas sebagai ketua Jurusan Karawitan ASTI Bandung,yang sesungguhnya merupakan hasil
integrasi antara ASKI dan ASTI Bandung. Berdasarkan jenisnya karya-karya Mang Koko sebagai hasil kreativitasnya dalam mengembangkan karawitan Sunda,
terdiri atas: Sekar Jenaka, lagu-lagu Kawih (anggana dan rampak sekar), Gamelan Wanda Anyar, Kacapian, Etude Kacapi, dan Drama Suara atau Gending Karesmen.
Karya-karya Mang Koko tersebut, sekalipun dibuat baru, tetapi secara esensial masih mengakar pada karawitan tradisional, sehingga secara musikal karya tersebut
masih bernuansa karawitan Sunda.

Dalam hal kreativitas, Mang Koko dapat dikatakan pelopornya. Hal ini disebabkan karena Mang Koko telah banyak menularkan konsep kreativitas kepada seniman generasi berikutnya, dalam arti karya-karya Mang Koko sebagai hasil kretivitasnya, kebanyakan dijadikan pijakan oleh para seniman generasi penerus ketika membuat karya baru karawitan. Atas dasar hal itu, Mang Koko menjadi figur seniman yang patut dicontoh kreativitas dan kenerjanya dalam mengembangkan karawitan Sunda. Dalam pembahasan kreativitas, penulis menggunakan kreativitas pendapat Dedi Supriadi. Kaitannya dengan karawitan Sunda, kreativitas adalah kemampuan seniman dalam melahirkan karya karawitan yang berbeda dengan karya karawitan
sebelumnya. Untuk itu dalam mengungkap Kretivitas Mang Koko dalam Karawitan Sunda, dapat dilakukan dengan menjelaskan penggalian dan penciptaan yang dilakukan Mang Koko.

Kata kunci: Mang Koko, Kreativitas, Karawitan Sunda

No comments:

Post a Comment