Aktualisasi Mitos “Sangkuriang” dan “Lutung Kasarung” dalam Novel “Déng”
Karya Godi Suwarna Deri Hudaya, Lina Meilinawati Rahayu, Hazbini (Panggung Vol. 25 No. 4, Desember 2015)
Mitos berangkat dari tradisi lisan, seni spiritual, dan kepercayaan masyarakat primordial. Sementara Novel berangkat dari tradisi tulis, berakar pada kebudayaan modern yang bercirikan rasio. Penelitian ini dilakukan untuk melihat pertemuan antara mitos dan novel Sunda, aktualisasi mitos Sangkuriang dan Lutung Kasarung yang diartikulasikan melalui novel Déng karya Godi Suwarna.
Lutung Kasarung merupakan cerita pantun yang paling karamat/keramat. Tokoh utamanya Purba Sari Ayu Wangi dan Guru Minda/Lutung Kasarung. Purba Sari merupakan manusia suci, namun disingkirkan oleh anggota keluarga lainnya yang haus akan kekuasaan di kerajaan. Guru Minda merupakan dewa yang diusir dari kayangan ke dunia dan menjelma lutung/
kera. Pengasingan merupakan proses permenungan menuju pemahaman atas apa yang disebut kemuliaan dan keagungan.
Kedua tokoh itu terasing dari lingkungannya sendiri. Purba Sari diusir dari kerajaan karena kecemburuan kakakkakaknya. Sementara Lutung Kasarung diusir dari kayangan karena melirik dengan birahi pada ibunya sendiri, Sunan Ambu. Pertemuan antara keduanya di sebuah hutan, tapal batas antara alam manusia dengan alam lian, merupakan pertemuan
kosmis antara manusia dan yang lian (the other). Perkawinan kedua tokoh itu, lalu kemudian memimpin sebuah kerajaan mengandung arti bahwa raja dan ratu adalah dua simbol dari dua entitas kekuatan yang lengkap dan mutlak, alam atas telah menyatu dengan alam bawah.
Hal yang menarik dari cerita pantun ini adalah pertentangan antara isi cerita pantun
dan kosmologi pada zamannya, yaitu kosmologi yang dipengaruhi oleh system kepercayaan Hindu-Budha-Sunda.
Sangkuriang
Sangkuriang adalah mitos yang populer, pernah diadaptasi ke sejumlah karya seni semisal film oleh Sisworo Gautama Putera, novel oleh Ajip Rosidi, drama-libretto oleh Utuy Tatang Sontani,
dan sebagainya. Oleh karena Sangkuriang berasal dari sastra lisan, terdapat banyak versi berbeda di beberapa daerah, baik latar cerita maupun nama-nama tokohnya. Yang dibahas dalam penelitian ini adalah Sangkuriang versi sasakala/legenda Gunung Tangkuban Parahu.
Sangkuriang adalah laki-laki yang mencintai ibu kandung, Dayang Sumbi. Ibu dapat ditafsirkan sebagai banjar karang pamidangan/tempat kelahiran, yaitu tanah Sunda. Merujuk pada karya-karya lisan terdahulu, tanah Sunda memang sering direpresentasikan dengan pesona alam dan kesuburannya. Setidaknya persepsi semacam itu bertahan sampai abad ke-20,
salah satunya tercermin dari puisi Pirangan Si Jelita karya Ramadan K.H. Dalam puisi
tersebut, tanah Sunda diperosinifikasikan sebagai perempuan cantik dan muda. Motif
cerita anak mencintai ibu dalam mitos Sangkuriang, bukan semata-mata hubungan fisik (inses) yang menyalahi norma, tapi dapat juga diartikan sebagai hubungan batin yang mengandung pesan bahwa manusia Sunda harus mencintai tanah airnya sendiri.
Kata kunci: lutung kasarung, sangkuriang, mitos, novel
No comments:
Post a Comment