Monday, April 4, 2016

Tinjauan Perkembangan Keris Tangguh Ngentha-Entha Yogyakarta 1975-2015

Tinjauan Perkembangan Keris Tangguh Ngentha-Entha Yogyakarta 1975-2015
Supriaswoto, SP. Gustami, Jurusan Kriya, Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta
Timbul Haryono.( Panggung Vol. 25 No. 4, Desember 2015)
Setiap keris memiliki ciri tersendiri yang disebut tangguh, seperti tangguhngénthaénthayang diciptakan di lingkungan masyarakat Desa Ngéntha-Éntha. Tokoh penting yang
membuat keris dengan tangguh ini adalah Empu Wayang. Pada tahun 1963, Empu Supowinangun, pewaris Empu Wayang, meninggal dunia. Akibatnya, sejak saat itu
pembuatan keris dengan gaya ngéntha-éntha tidak lagi dilakukan. Pada tahun 1975 ada upaya untuk merevitalisasinya dan berhasil. Penelitian ini bermaksud meneliti revitalisasi
keberadaan keris Tangguh Ngenta-entha tersebut dengan menggunakan metode historis.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa revitalisasi ini telah diakukan oleh dua empu
keris bernama Yosopangarso dan Jeno Harumbrojo. Dewasa ini, dua orang empu keris tersebut telah meninggal dunia dan proses pembuatan keris dengan ciri-ciri
tangguhngéntha-énthadiambil alih oleh Empu Sungkowo, anak angkat Empu Jeno Harumbrojo dengan metode rekonstruksi pola-pola pewarisan yang tetap dan tidak
meninggalkan pakem-pakem tradisi yang ada.

Keris adalah salah satu jenis senjata tradisional Jawa yang dibuat dari bahan besi yang berkualitas tinggi. Dua sisi bilahnya adalah tajam dan ujungnya runcing.Bagi orang Jawa, keris tidak hanya dianggap penting, tetapi juga diagungkan. Menurut Denys Lombard(2005: 194), di
masa lalu orang kaya atau miskin di Jawa memiliki keris di rumah; tidak ada laki-laki
yang berumur antara dua belas sampai delapan puluh tahun berani keluar rumah tanpa keris terselip disabuknya.Salah satu peran kerisadalah sebagai unsur seni budaya tradisi yang berfungsi untuk meningkatkan kehidupanseremonial pada semua peristiwa penting, baik di istana raja maupun di dalam komunitas desa (Holt, 2000: xxix). Pembuat keris mendapat
sebutan empu. yaitu seorang pandhé (perekayasa) besi yang menunjukkan kualifikasi keahlian serta kedudukan di atas pandhé besi biasa (Soeratno, 2008: 228).Setiap keris memiliki ciri khas atau identitas yang disebut tangguh. Di Yogyakarta terdapat keris tangguhHamengku Buwana (HB) Yogyakarta yang lahir di lingkungan kerajaan dan keris tangguh ngéntha-éntha yang lahir di lingkungan komunitas Desa Ngéntha-Éntha, sebelah barat wilayah Godean, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Kata kunci: revitalisasi, keris, gaya ngéntha-éntha

No comments:

Post a Comment