Friday, April 29, 2016

SEJARAH SITUS Penulis: Pustakawan Madya ISBI Bandung

SEJARAH SITUS
Penulis: Pustakawan Madya ISBI Bandung


 Zaman Prasejarah
Zaman Prasejarah, atau sering juga disebut nirleka (nir: tidak ada, leka: tulisan), adalah istilah yang digunakan untuk merujuk kepada masa di mana catatan atau tulisan belum ada. Dengan demikian, batas antara zaman prasejarah dengan zaman sejarah adalah mulai adanya tulisan. Berakhirnya zaman prasejarah atau  dimulainya  zaman  sejarah  untuk  setiap  bangsa  di  dunia  tidak  sama, tergantung dari peradaban bangsa yang bersangkutan. Zaman   prasejarah   di   Indonesia   diperkirakan   berakhir   pada   waktu berdirinya  Kerajaan  Kutai,  sekitar  abad  ke-5.  Berdirinya  kerajaan  tersebut dibuktikan  oleh  keterangan  dalam  prasasti  pada  batu  berbentuk  yupa  yang ditemukan di tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur.
Mengenai kehidupan zaman prasejarah di Jatigede khususnya dan di Sumedang umumnya belum diungkap secara tuntas. Namun demikian, upaya-
upaya ke arah itu sudah dimulai. Bulan Mei 2007 Balai Arkeologi Bandung mengadakan penelitian di daerah Sumedang, tepatnya di Desa Jembarwangi dan
sekitarnya dan di Kecamatan Tomo. Penelitian difokuskan pada penemuan fosil fauna dan vertebrata.


Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan jenisnya, gigi dan tulang fauna itu berasal dari kelompok hewan gajah purba (Stegodon sp), Cervus sp, dan
Bovidae sp. Fragmen fosil yang berasal dari Stegodon sp antara lain terdiri dari bagian gigi, bonggol sendi tulang kering sebelah atas, dan potongan tulang paha.
Kelompok Cervus sp terdiri dari bagian rahang dengan sederetan gigi; kelompok Bovidae sp terdiri dari beberapa fosil gigi. Temuan itu umumnya merupakan
temuan permukaan di kawasan perbukitan Pasir Melati, terutama di kawasan Blok Gegermaja yang langsung berbatasan dengan aliran Sungai Cisaar dan Blok
Reunependeu yang terletak lebih kurang 500 meter di sebelah utara Balai Desa Jembarwangi.

Secara astronomis daerah temuan fosil vertebrata itu merupakan kawasan perbukitan  bergelombang  rendah (pasir)  yang  terletak  berbatasan  dengan
Kabupaten  Majalengka,  berada  pada  ketinggian  antara 100-300  meter  dpl. Kawasan ini dibelah oleh aliran Sungai Cisaar, anak aliran Sungai Cimanuk yang bermuara ke pantai utara Jawa. Hal itu berarti, setidaknya daerah yang kemudian bernama Sumedang merupakan bagian dari peristiwa migrasi fauna purba dari daratan Asia menuju kepulauan Indonesia, khususnya Pulau Jawa bagian barat pada zaman prasejarah.

Selain temuan fosil fauna purba, di daerah Sumedang juga ditemukan peralatan batu sebelum zaman megalitikum dan peninggalan zaman megalitikum.
Situs-situs megalitik ditemukan di sebagian besar wilayah Sumedang, seperti Darmaraja, Jatigede, Wado, Gunung Tampomas, Gunung Lingga, dan lain-lain.
Situs-situs tersebut digunakan kembali pada zaman sejarah hingga kurun waktu zaman Islam, bahkan hingga sekarang. Situs demikian dalam istilah arkeologi disebut situs berlanjut (multi component site).

Pada zaman megalitikum, kegiatan bercocok tanam makin berkembang. Kegiatan bercocok tanam pada zaman prasejarah di Indonesia dimulai kira-kira
bersamaan dengan berkembangnya kemahiran mengupam (mengasah) alat-alat batu, serta mulai dikenalnya teknik pembuatan gerabah. Kemahiran bercocok
tanam lahir dari usaha manusia prasejarah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya serta  mengembangkan  penghidupan  baru.  Dengan  bercocok  tanam  berarti
masyarakat sudah hidup menetap dan besar kemungkinan melakukan penjinakan hewan-hewan tertentu sebagai binatang ternak. Dalam taraf kehidupan demikian,
seyogyanya  berbagai  sendi  kehidupan  lain  akan  berubah  sejalan  dengan kesejahteraan yang dicapai. Pada masyarakat tingkat sederhana, perubahan yang
terjadi adalah pertambahan jumlah anggota keluarga karena faktor kelahiran, yang pada akhirnya berdampak pada jumlah anggota masyarakat. Hal itu berdampak
pula pada perambahan hutan untuk membuka lahan pertanian dan pemukiman,pembangunan perumahan dalam tingkat sederhana, dan lain-lain.

Dalam kehidupan religius, berkembang sebuah tradisi  yang memiliki corak dan sifat khusus, yaitu tradisi megalitik sebagai media penghormatan
terdapap arwah leluhur. Pada zaman itu muncul tradisi penggunaan batu besar.Boleh jadi  penggunaan batu besar itu bukan untuk pemenuhan kebutuhan
jasmaniah (peralatan praktis), melainkan untuk pemenuhan kebutuhan rohaniah.Sebagian besar dari material yang digunakan hampir tidak mendapat pengerjaan,
kalaupun ada terkesan hanya dilakukan seperlunya untuk mendapatkan bentuk yang diinginkan, seperti meratakan permukaan atau menggoreskan garis-garis motif yang diinginkan.

Dasar kehidupan religi pada zaman megalitik adalah sikap terhadap alam kehidupan sesudah mati. Masyarakat pada waktu itu percaya bahwa roh seseorang
tidak lenyap pada saat orang meninggal, melainkan tetap hidup dan memiliki kelanjutan kehidupan dalam wujud-wujud rokhaniahnya, sehingga roh-roh leluhur
itu dianggap sangat mempengaruhi jalan kehidupan keturunannya di dunia. Sebagai penghormatan terhadap dan sarana komunikasi dengan arwah leluhur, dibuatkan media untuk menempatkan roh para leluhur pada tataran lebih tinggi. Media itu juga bermakna untuk lebih mendekatkan jarak antara puncak gunung sebagai ”dunia atas” dengan ”dunia bawah” tempat para anak cucu. Hampir semua media tempat penghormatan dan komunikasi itu ditempatkan pada bangunan  berupa  undakan  atau  undak-undakan,  sehingga  muncul  sebutan bangunan atau punden berundak yang teras-terasnya bersusun kian ke atas kian mengecil, seperti piramid. Bentuk itu dimaksudkan sebagai replika dari bentuk gunung, karena pada zaman itu gunung dianggap sebagai alam arwah yang abadi, sehingga gunung dianggap sebagai tempat suci.

Selain bangunan berundak, karya lain tradisi megalitik adalah berupa dolmen, peti kubur batu, bilik batu, sarkofagus, kalamba (bejana batu) waruga, watu (batu) kandang dan temu gelang. Di tempat itu biasanya dihadirkan juga beberapa batu besar sebagai pelengkap atau media pemujaan nenek moyang, seperti menhir, patung nenek moyang, batu saji, batu lumpang, batu lesung, batu dakon, pelinggih batu, atau tembok batu. Sebagian dari situasi dan kondisi tersebut diduga terjadi pula di daerah Sumedang. Namun sampai saat ini, hasil penelitian arkeologi prasejarah di daerah Sumedang didominasi oleh temuan tradisi megalitik.

Berdasarkan  hasil  penelitian  arkeologi,  terungkap  bahwa  pada  masa sebelum tradisi megalitik berlangsung, manusia prasejarah di kawasan tengah
Jawa Barat pada waktu itu cenderung menempati kawasan sisi timur Danau Bandung  Purba.  Hal  itu  didukung  oleh  adanya  situs-situs  prasejarah  yang
ditemukan di kawasan itu, yang berdekatan atau berbatasan dengan Sumedang pada saat ini. Di antara temuan itu adalah temuan obsidian, dan temuan lainnya
hasil tinggalan dari masa mesolitik dan neolitik, seperti situs-situs yang terletak dalam kawasan Gunung Manglayang, Cibiru Wetan, dan Cileunyi pada saat ini.
Hal  itu  tidak  menutup  kemungkinan  bahwa  pada  masa  sebelumnya,  ketika kawasan   Danau   Bandung   Purba   masih   berfungsi,   masyarakat   prasejarah
cenderung mencari lahan-lahan dekat air sebagai salah satu sumber kehidupan mereka. Baru pada masa sesudahnya, sejalan dengan kebutuhan lahan untuk
tempat tinggal karena bertambahnya populasi penduduk, masyarakat itu membuka lahan ke lahan terdekat, yaitu kawasan Sumedang. Bila dugaan itu mendekati
kebenaran, mungkin sejak itulah di daerah Sumedang berlangsung kehidupan manusia prasejarah.

Zaman Kerajaan
Selepas masa prasejarah, Sumedang memasuki masa sejarah. Namun sampai saat ini belum diketahui secara pasti, kapan tepatnya Sumedang mulai
masuk  ke  zaman  sejarah.  Sumber  tradisional  menyebutkan,  bahwa  zaman kesejarahan  Sumedang  dimulai  oleh  berdirinya  Kerajaan  Tembong  Agung
(Tembong  artinya  nampak  dan  Agung  artinya  luhur).  Namun,  satu  sumber menyatakan kerajaan itu berdiri pada tahun 9008 dengan ibukota kerajaan terletak
di  Kampung  Muhara,  Desa  Leuwihideung (sekarang  termasuk  Kecamatan Darmaraja).9 Raja pertama yang memerintah kerajaan itu adalah Prabu Guru Aji Putih. Sumber lain menyebutkan bahwa Prabu Guru Aji Putih naik tahta kira-kira tahun 1500, sehingga ia disejajarkan dengan masa pemerintahan Raja Sunda, Sri Baduga Maharaja atau Ratu Jayadewata yang berkuasa pada tahun 1482 - 1521. Menurut Bayu Suryaningrat, berdasarkan Carita Parahyangan, Prabu Guru Aji Putih adalah saudara Prabu Sri Baduga Maharaja.10

Masih menurut sumber tradisional, Prabu Aji Putih menikah dengan Dewi Ratna Inten, dikenal juga dengan sebutan Dewi Nawang Wulan. Ia adalah putri
Jagat Jayanata, keponakan Purbasora atau cucu Resi Demunawan dari permaisuri Saribanon Kencana. Perkawinan Prabu Aji Putih dengan Dewi Nawang Wulan
melahirkan beberapa anak, yaitu Bratakusumah, Sokawayana, Harisdarma dan Langlangbuawa.11

Disebutkan dalam cerita rakyat, bahwa ketika Bratakusumah menginjak usia dewasa, ia pergi berguru ke berbagai tempat. Terakhir ia pergi bertapa ke
Gunung Nurmala. Pada saat itulah ia berucap „insun medal, insun madangan”. Artinya “aku dilahirkan, aku menerangi”. Konon, kata “Sumedang” diambil dari kata Insun Madangan yang berubah pengucapannya menjadi Sun Madang, yang selanjutnya  menjadi  Sumedang.  Ada  juga  pendapat,  bahwa  kata  Sumedang berasal dari kata Insun Medal.

Setelah  kembali  dari  pertapaan,  Bratakusumah  diangkat  menjadi  raja menggantikan ayahnya. Sejak saat itu Bratakusumah berganti nama menjadi Prabu  Agung  Resi  Cakrabuana   yang  lebih  dikenal  dengan  nama  Prabu Tajimalela.13   Begitu   juga   kerajaannya   berganti   nama   menjadi   Kerajaan Sumedanglarang.14 Pusat pemerintahannya terletak di Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja sekarang. Versi lain menyebutkan bahwa Kerajaan Tembong Agung berganti nama menjadi Kerajaan Himbar Buana.15

Setelah Prabu Tajimalela menjadi raja, kemudian ia mengangkat saudara-saudaranya menjadi patinggi (penguasa) di beberapa daerah. Sokawayana menjadi patinggi di daerah sekitar Gunung Tampomas. Harisdarma menjadi patinggi di sekitar wilayah Gunung Haruman. Langlangbuana menjadi patinggi di wilayah Lemah Putih, namun tidak lama karena ia kemudian mengabdi ke Kerajaan Galuh.

Prabu Tajimalela memiliki tiga orang putra yaitu Prabu Lembu Agung, Prabu Gajah Agung, dan Sunan Geusan Ulun.17 Berdasarkan sumber tradisional
berjudul Layang Darmaraja, Prabu Tajimalela berniat untuk mengangkat dua putranya (Prabu Lembu Agung dan Prabu Gajah Agung), masing-masing menjadi
raja dan menjadi wakilnya (patih). Akan tetapi keduanya tidak bersedia. Oleh karena itu, Prabu Tajimalela memberi ujian kepada kedua putranya dan jika kalah
harus menjadi raja. Kedua putranya diperintahkan pergi ke Gunung Nurmala (sekarang Gunung Sangkanjaya). Keduanya diberi perintah harus menjaga sebilah
pedang dan buah kelapa muda (duwegan/degan). Akan tetapi, Prabu Gajah Agung karena sangat kehausan, ia membelah dan meminum air kelapa muda tersebut.

Oleh karena ia dinyatakan kalah (tidak lulus ujian), sehingga harus menjadi raja Kerajaan  Sumedanglarang,  tetapi  wilayah  ibu  kota  harus  mencari  sendiri.
Sementara itu, Prabu Lembu Agung yang biasa disebut juga Prabu Lembu Peteng Aji, tetap di Leuwihideung, dan diangkat menjadi raja untuk sekedar memenuhi
wasiat   Prabu   Tajimalela.   Setelah   Prabu   Tajimalela   meninggal,   Kerajaan Sumedanglarang diserahkan kepada Prabu Gajah Agung, sedangkan Prabu Lembu
Agung menjadi resi. Sumber tradisional tersebut juga menyatakan bahwa Sunan Geusan Ulun memiliki keturunan yang tersebar di Limbangan, Karawang, dan
Brebes.

Sumber lain menyebutkan bahwa Prabu Tajimalela mempunyai putra kembar, yaitu Prabu Lembu Agung (disebut juga Prabu Lembu Peteng Aji) dan Prabu  Gajah  Agung.  Setelah  Prabu  Tajimalela  meninggal  dunia,  kerajaan Sumedanglarang dipimpin oleh Prabu Lembu Agung atau Prabu Lembu Peteng Aji.  Setelah  Prabu  Lembu  Agung  menjadi  resi,  Kerajaan  Sumedanglarang diserahkan kepada Prabu Gajah Agung. Setelah Prabu Gajah Agung menjadi raja, ia memindahkan ibu kota
kerajaan  dari  Leuwihideung  ke  Ciguling,  Desa  Pasanggrahan (Kecamatan Sumedang Selatan). Dahulu tempat ini bernama Kampung Gegersunten. Dengan dijadikannya ibukota kerajaan, daerah itu berubah menjadi ramai. Setelah menjadi raja Prabu Gajah Agung terkenal dengan nama Prabu Pagulingan.19 Ia memiliki dua orang anak, yaitu Ratu Istri Rajamantri dan Sunan Guling.

Prabu Gajah Agung meninggal dan dimakamkan di Cicanting (sekarang Desa  Sukamenak,  Kecamatan  Darmaraja.  Sepeninggal  Prabu  Gajah  Agung, kerajaan dipimpin oleh Sunan Guling. Adapun kakaknya, Ratu Istri Rajamantri, menjadi permaisuri raja Pajajaran. Sunan  Guling  meninggal  dan  dimakamkan  di  Heubeul  Isuk,  Desa Cinanggerang,  Kecamatan  Sumedang  Selatan.  Pemerintahan  diganti  oleh anaknya, Sunan Tuakan. Setelah wafat ia dimakamkan di Heubeul Isuk, Desa Cinanggerang, Kecamatan Sumedang Selatan. Sunan Tuakan digantikan oleh putrinya bernama Nyi Mas Ratu Patuakan. Ia mempunyai suami Sunan Corenda, putra Sunan Parung, cucu Prabu Ratu Dewata.

Dari perkawinannya Nyi Mas Ratu Patuakan mempunyai seorang putri bernama Nyi Mas Ratu Inten Dewata. Setelah ibunya meninggal, ia menjadi ratu
dengan gelar Ratu Pucuk Umun (1530-1578). Ratu Pucuk Umun menikah dengan Pangeran Kusumahdinata, putra Pangeran Pamalekaran (Dipati Teterung), putra
Aria Damar, Sultan Palembang, keturunan Majapahit. Ibunya Ratu Martasari/Nyi Mas  Ranggawulung,  keturunan  Sunan  Gunung  Jati  dari  Cirebon.  Pangeran
Kusumahdinata lebih dikenal dengan julukan Pangeran Santri, karena ia pernah hidup di pesantren, sehingga perilakunya yang sangat alim. Pernikahan ratu
Sumedanglarang   dengan   Pangeran   Santri   keturunan   Sunan   Gunung   Jati, mengakhiri zaman kerajaan Hindu di Sumedanglarang. Sejak itul agama Islam
menyebar di wilayah Sumedanglarang.

Pada pertengahan abad ke-16, mulailah corak agama Islam mewarnai perkembangan Sumedanglarang. Ratu Pucuk Umun, seorang wanita keturunan
raja-raja Sumedang kuno yang merupakan seorang Sunda muslimah dinikahi Pangeran  Santri (1505-1579  M)  yang  bergelar  Ki  Gedeng  Sumedang  dan
memerintah Sumedanglarang bersama-sama serta menyebarkan ajaran Islam di wilayah tersebut.

Ratu Pucuk Umun menikah dengan Pangeran Santri dari Cirebon. Ia adalah seorang pangeran yang sekaligus juga seorang ulama. Nama asli Pangeran
Santri adalah Pangeran Kusumadinata. Pernikahan Nyi Mas Ratu Inten Dewata (Ratu Pucuk Umun) dengan Pangeran Kusumadinata (Pangeran Santri) dianggap sebagai berakhirnya masa Hindu di Sumedang dan mulai tersebarnya agama Islam.  Pada  masa  itu  ibu  kota  kerajaan  Sumedanglarang  dipindahkan  dari
Ciguling ke Kutamaya. Pemindahan ibu kota kerajaan ini terjadi kira-kira pada tahun 1530. Pernikahan Ratu Pucuk Umun dengan Pangeran Santri membuahkan enam putera, yaitu:
1.  Raden Angkawijaya (kemudian bergelar Prabu Geusan Ulun)
2.  Kiayi Rangga Haji
3.  Kiayi Demang Watang
4.  Santowaan Wirakusumah
5.  Santowaan Cikeruh
6.  Santowaan Awiluar.

Setelah Ratu Pucuk Umun dan Pangeran Santri wafat (diperkirakan tahun 1579) yang menjadi raja selanjutnya adalah anaknya yang sulung bernama Raden Angkawijaya. Ratu Pucuk Umun dan Pangeran Santri sendiri dimakamkan di Makam Pasarean Gede, di pusat kota Sumedang sekarang. Setelah dinobatkan menjadi raja, Raden Angkawijaya mendapat gelar Prabu Geusan Ulun yang memerintah Sumedanglarang tahun 1579-1601.

Berdasarkan   sumber-sumber   tradisional   dan   cerita   turun-temurun, sebagian warga masyarakat, khususnya masyarakat Sumedang, meyakini bahwa
di  daerah  Sumedang  pernah  berlangsung  pemerintahan  Kerajaan  Tembong Agung. Kepercayaan masyarakat akan hal tersebut, dalam ilmu sejarah disebut accepted history (“sejarah” yang diterima oleh masyarakat/umum). Namun, bagi kebenaran sejarah, hal itu menjadi tantangan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut secara seksama. Menurut beberapa sumber akurat mengenai zaman kerajaan di Tatar Sunda (Jawa   Barat),   setelah   Kerajaan   Sunda/Pajajaran   runtuh   tahun 1579/1580,
kemudian muncul Kerajaan Sumedanglarang, dengan raja pertama Prabu Geusan Ulun, dengan permaisuri Nyi Mas Gedeng Waru (Putra Sunan Pada). Dari
permaisuri, Prabu Geusan Ulun memiliki 14 anak, yaitu: Pangeran Rangga Gede, Rd. Arya Wirareja, Kiai Rangga Gede, Kiai Patrakelasa, Ngabehi Watang, Arya
Rg. Pati Haur Kuning, Nyi Demang Cipaku, Nyi Mas Ngabehi Martayuda, Nyimas Rg. Wiratama, Rd. Rg. Nitinagara, Nyi Mas Rg. Pamande, Nyi Mas
Dipati Ukur, Pangeran Dipati Kusumahdi Nata, dan Tumenggung Tegal Kalong.Menurut sumber akurat, Prabu Geusan Ulun memerintah tahun 1580-1608.22 Semula ibu kota kerajaan Sumedanglarang berlokasi di Ciguling. Namun beberapa waktu kemudian dipindahkan ke Kutamaya.

Luas  wilayah  kerajaan  Sumedanglarang  adalah  seluas  bekas  wilayah Kerajaan Pajajaran, yaitu seluruh wilayah Jawa Barat minus Banten, Jayakarta
dan Cirebon. Daerah-daerah yang ketika Kerajaan Pajajaran melemah -- akibat peperangan dengan Banten -- berusaha melepaskan kesetiannya, ditaklukkan oleh pasukan  Prabu  Geusan  Ulun.  Daerah-daerah  itu  adalah  Karawang,  Ciasem, Pamanukan dan Indramayu.Munculnya Kerajaan Sumedanglarang merupakan penerus atau pewaris  Kerajaan Pajajaran. Klaim Kerajaan Sumedanglarang sebagai pewaris kebesaran Kerajaan Pajajaran dijelaskan oleh sumber tradisi. Dalam Babad Sumedang, disebutkan, bahwa menjelang keruntuhan Kerajaan Pajajaran, empat kandaga lante Pajajaran diperintah oleh Raja Pajajaran, Raga Mulya Surya Kencana, untuk menyerahkan   barang-barang   pusaka   Kerajaan   Pajajaran   berupa   Mahkota Binokasih Sang Hyang Pake Siger dan perlengkapannya kepada Prabu Geusan
Ulun. Mahkota mas ini merupakan simbol penting kerajaan. Empat kandaga lante itu adalah:
1.   Sang Hiang Hawu (Embah Jayaperkasa)
2.   Batara Dipati Wiradijaya (Embah Nangganan)
3.   Sang Hiang Kondang Hapa
4.   Batara Pancar Buana (Embah Terong Peot).

Empat   kandaga   lante   ini   tidak   kembali   ke   Pajajaran,   tapi   terus mengabdikan diri kepada Prabu Geusan Ulun. Masih menurut sumber tradisi,
keempat  kandaga  lante  itu,  sejatinya  adalah  orang  Sumedanglarang  yang mengabdikan diri di Kerajaan Pajajaran. Dengan demikian, kembalinya mereka ke
Sumedanglarang  termasuk  ke  dalam  ungkapan „kebo  mulih  pakandangan“, pulang ke kampung halaman sendiri. Empat kandaga lante tersebut kemudian menjadi punakawan setia Prabu Geusan Ulun, sekaligus menjadi pihak yang sering dimintai pertimbangan dalam membuat keputusan-keputusan.

Pada masa pemerintahan Geusan Ulun terjadi sebuah peristiwa penting yang melekat dalam memori kolektif masyarakat. Peristiwa itu antara lain konflik antara Sumedanglarang dengan Cirebon. Konflik itu terjadi akibat hubungan asmara antara Prabu Geusan Ulun dengan Ratu Harisbaya istri selir Sultan Cirebon. Hubungan asmara anatara kedua orang itu terjadi ketika Prabu Geusan Ulun sedang memperdalam ilmu agama Islam. Di sela-sela kesibukan memeritah kerajaan, Prabu Geusan Ulun masih menyempatkan diri untuk memperdalam ilmu keagamaan. Berangkatlah ia ke tempat yang menjadi pusat penyebaran agama Islam. Dalam hal ini terdapat dua versi ceritera mengenai tempat di mana Prabu Geusan Ulun memperdalam ilmu. Versi pertama menyebutkan ia memperdalam agama Islam di Demak.

Dalam perjalanan pulang ke Sumedanglarang ia mampir ke Keraton Cirebon.26 Waktu itu Kesultanan Cirebon berada di bawah kekuasaan Panembahan Ratu alias
Pangeran Girilaya (1570-1649). Versi kedua menyatakan bahwa untuk tujuan memperdalam ilmu agama Islam, Prabu Geusan Ulun pergi ke Cirebon.27 Kiranya  versi  kedua  lebih  dapat  diterima.  Pertama,  secara  geografis Cirebon letaknya lebih dekat dengan Sumedanglarang. Kedekatan jarak kedua
tempat   itu   memungkinkan   Prabu   Geusan   Ulun   untuk   dapat   mengontrol kerajaannya. Kedua, saat itu Cirebon adalah pusat penyebaran Islam yang tidak
kalah pamornya jika dibandingkan dengan Demak. Ketiga, Prabu Geusan Ulun masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Cirebon, karena ia adalah putra Pangeran Santri, cicit Sunan Gunung Jati. Maksud Prabu Geusan Ulun datang ke Cirebon untuk mendalami ilmu agama tidak berjalan lancar. Saat Prabu Geusan Ulun berada di lingkungan keraton Cirebon, Pakungwati, terjadi affair antara ia dengan Ratu Harisbaya29 isteri selir Pangeran Girilaya.

Ringkas cerita, ketika Prabu Geusan Ulun kembali ke Sumedanglarang, Ratu Harisbaya pun kabur dari keraton untuk menyusulnya30, padahal waktu itu
Ratu Harisbaya sedang mengandung anak dari Pangeran Girilaya. Kejadian ini memicu konflik antara Kesultanan Cirebon dengan Kerajaan Sumedanglarang. Pangeran Girilaya mengirim pasukan ke Sumedanglarang untuk membawa pulang Ratu Harisbaya. Para kandaga lante Sumedanglarang sudah memprediksi akan
datangnya  pasukan  Cirebon  menyusul  Ratu  Harisbaya.  Para  kandaga  lante menunggu (Sunda: ngadagoan) kedatangan pasukan Cirebon di perkampungan
yang kemudian dikenal dengan nama kampung Dago Jawa.Para kandaga lante berhasil menghalau pasukan Cirebon. Sementara itu, Pangeran Geusn Ulun dan Ratu   Harisbaya   meneruskan perjalanan   menuju   ibu   kota   Kerajaan Sumedanglarang, Kutamaya. Di pihak Sumedanglarang timbul kekhawatiran akan datangnya serangan pasukan   Cirebon.   Untuk   mengantisipasinya,   Embah   Jaya   Perkasa   dan pasukannya, dengan seizin Prabu Geusan Ulun, menjaga daerah perbatasan. Menurut cerita tradisi, sebelum Embah Jayaperkasa berangkat, ia terlebih dahulu menanam pohon hanjuang di sudut alun-alun Kutamaya. Penanaman pohon itu dimaksudkan  sebagai  isyarat.  Jika  pohon  itu  tumbuh  subur,  berarti Embah Jayaperkasa memenangkan pertempuran. Sebaliknya, jika pohon itu mati berarti
ia kalah dan gugur.

Sementara  Embah  Jayaperkasa  beserta  pasukannya  berada  di  batas kerajaan, di keraton Kutamaya muncul pemikiran untuk memindahkan ibu kota kerajaan ke tempat lain yang jauh dari jangkauan pasukan Cirebon. Pemikiran itu didasarkan atas kekhawatiran, jika Embah Jayaperkasa kalah dalam pertempuran, Kutamaya akan menjadi sasaran serangan pasukan Cirebon. Tanpa memperhatikan isyarat dari Embah Jayaperkasa, ibu kota kerajaan pindah ke suatu tempat di kawasan Gunung Rengganis. Tempat ini kemudian dikenal dengan nama Dayeuh Luhur. Sebagian penduduk Kutamaya pun turut pindah mengikuti raja dan aparat kerajaan.

Disebutkan   dalam   sumber   tradisi,   bahwa   Embah   Jayaperkasa memenangkan pertempuran, kemudian ia dan pasukannya kembali ke Kutamaya.
Setibanya di Kutamaya, betapa kagetnya dia, karena didapatkan ibu kota itu sudah kosong. Sementara, pohon hanjuang yang ditanam di sudut alun-alun, tumbuh dengan subur. Setelah diperoleh informasi bahwa ibu kota kerajaan sudah pindah ke Gunung Rengganis, berangkatlah Embah Jaya Perkasa ke sana. Kesedihan Embah Jayaperkasa semakin bertambah, karena didapatkan Prabu Geusan Ulun beserta   ketiga   kandaga   lante   sedang   membicarakan   tewasnya   Embah Jayaperkasa.32 Kecewa atas kejadian itu Embah Jayaperkasa pergi meninggalkan keraton menuju suatu kabuyutan (semacam tempat semedi) dan selanjutnya ia
„ngahiyang“ (menghilang).33

Mengenai konflik antara Sumedanglarang dengan Cirebon, saran Sultan Mataram,34 akhirnya diselesaikan dengan cara damai. Sultan Cirebon
Pangeran Girilaya bersedia menjatuhkan talak kepada Ratu Hasibaya, dengan syarat Prabu Geusan Ulun harus memberikn tebusannya (kompensasi). Prabu
Geusan Ulun memberikan wilayah Sindangkasih (sekarang Majalengka) kepada Sultan Cirebon sebagai kompensasi. Setelah itu, berarti Ratu Harisbaya resmi
menjadi istri kedua Prabu Geusan Ulun, dan hubungan Sumedanglarang dengan Cirebon baik kembali.

Lubis, Nina Herlina, et al. 2004.
Laporan Penelitian Dokumentasi Situs-Situs, Mitos-Mitos dan Tradisi Lisan  di  Jatigede.  Bandung:  Pusat  Penelitian  Kemasyarakatan  dan Kebudayaan. Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran.

Saringendyanti, Etty. Masa Prasejarah Hingga Masa Hindu Budha (naskah belum diterbitkan), -------. 1996.

Penempatan Situs Upacara Masa Hindu Budha: Tinjauan Lingkungan Fisik Kabuyutan di Jawa Barat. Tesis Magister Arkeologi pada Program Pascasarjana Universitas Indonesia. Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

No comments:

Post a Comment