Tuesday, April 5, 2016

Rekontruksi Model Manajemen Rurukan Dalam Upacara Adat/

Rekontruksi Model Manajemen Rurukan Dalam Upacara Adat/Euis Suhaenah, Ai Juju Rohaeni, Wanda Listiani.

Rurukan adalah sebuah kumpulan atau organisasi adat masyarakat komunitas petani berdasarkan pemilahan wilayah di Rancakalong. Secara tradisi, perekrutan anggota rurukan satu sama lainnya masih terkait kerabat berdasarkan garis keturunan.

Dalam arti luas rurukan adalah model sebuah organisasi yang bernilai dalam kehidupan lokal masyarakat Rancakalong, masyarakat yang terbangun dalam periode yang sangat panjang berevolusi bersama masyarakat dan lingkungan dalam sistem lokal. Proses tersebut dalam kehidupan masyarakat menjadi pengetahuan kolektif masyarakat lokal, sehingga nilai-nilai tersebut diyakini oleh masyarakat setempat sebagai kebenaran dan menjadi pedoman dalam melakukan sesuatu.

Berdasarkan pengamatan, menarik untuk diungkap sistem rurukan yang dianut masyarakat secara tradisi bisa menyelenggarakan sebuah perhelatan upacara ritual Ngalaksa. Pelaksanaan upacara ritual yang sakral tersebut bagi masyarakat Rancakalong telah berlangsung selama ratusan tahun. Meskipun
zaman telah banyak berubah, pendudukpemilik ritual itu terus melestarikan adat warisan nenek moyang mereka. Upacara yang dikaitkan dengan persembahan untuk Dewi padi Sang Hyang Sri Pohaci, pada pelaksanaanya diiringi oleh jenis kesenian bernama Tarawangsa.

Pola pikir masyarakat sawah dalam konsep rurukan tersirat dalam pemetaan jumlah rurukan. Di Rancakalong ada 5 (lima) rurukan yang menunjukkan pola pikir orang sawah dikenal dengan konsep “empat kiblat kalima pancer”. Adapun pemetaaan 5  (lima) rurukan di Rancakalong sebagai berikut, yakni; rurukan Rancakalong,  rurukan Cibunar, rurukan Cijere, rurukan Legok Picung, dan rurukan Pasir Biru.

Masing-masing rurukan berjumlah 30 orang yang dipimpin oleh seorang saehu atau pimpinan rurukan, dan yang lainnya berperan sebagai pelaku seni penabuh Tarawangsa, penari dan petugas khusus yang memiliki keahlian dalam bidangnya, misalnya menumbuk beras, membuat laksa, candoli, menanak nasi, memasak, ngawasuhnyai (membersihan beras), ngukus dan sebagainya.
(Panggung Vol. 26 No. 1, Maret 2016)

Kata kunci: manajemen komunitas, upacara

No comments:

Post a Comment