Cerita Pantun Lutung Kasarung
Deri Hudaya, Lina Meilinawati Rahayu, Hazbini
Cerita pantun telah hidup pada masa Kerajaan Pajajaran. Hal tersebut tersurat pada Siksa kandang Karesian, naskah kuno yang titimangsa penulisannya adalah tahun 1440 Saka atau 1518 Masehi (Isnendes,2010:87). Cerita pantun dipandang sebagai mitologi Kerajaan Pajajaran karena dari seluruh cerita yang terdokumentasikan, yaitu 75 judul (Wibisana, 2000:100), menceritakan pengembaraan anak-anak Raja Pajajaran. Melalui pelbagai cerita pantun, masyarakat Sunda mengakui otoritas Kerajaan Pajajaran dalam setiap segi kehidupannya. Sistem pemerintahan Pajajaran tidak terpisahkan dari sistem religi Panggung Vol. 25 No. 4, Desember 2015 371 Hindu yang dianut masyarakatnya, di mana raja dipandang sebagai kepanjangan tangan atau wakil dewa di dunia. Tunduk pada raja bukan semata-mata bentuk kepatuhan fisik, tetapi juga menunjukkan kepatuhan iman.
Motif cerita pantun cenderung pada pola pertemuan antara calon raja di buana pancatengah bumi, Pajajaran) dengan tokoh lainnya dari dunia atas (kayangan). Cerita pantun termasuk teater tutur dengan subjek penutur juru pantun. Pertunjukan diawali rajah pamuka/pembuka
dan diakhiri rajah panutup/penutup. Rajah merupakan mantra sekaligus doa agar semua orang yang terlibat dalam pertunjukan diberi keselamatan. Selama pertunjukan berlangsung, penonton tidak diperkenankan meninggalkan tempat pertunjukan.
Semua ketentuan selalu dipatuhi, baik oleh juru pantun maupun oleh penonton. Pertunjukan cerita pantun dipahami bukan sebagai hiburan, melainkan sebagai ritus yang sakral. Pertunjukan cerita pantun masih dapat ditemui salah satunya di masyarakat adat Ciptagelar. Lutung Kasarung merupakan cerita pantun yang paling karamat/keramat. Tokoh
utamanya Purba Sari Ayu Wangi dan Guru Minda/Lutung Kasarung. Purba Sari merupakan manusia suci, namun disingkirkan oleh anggota keluarga lainnya yang haus akan kekuasaan di kerjaan. Guru Minda merupakan dewa yang diusir dari kayangan ke dunia dan menjelma lutung/ kera. Pengasingan merupakan proses permenungan menuju pemahaman atas apa
yang disebut kemuliaan dan keagungan. Kedua tokoh itu terasing dari lingkungannya sendiri. Purba Sari diusir dari kerajaan karena kecemburuan kakakkakaknya. Sementara Lutung Kasarung diusir dari kayangan karena melirik dengan birahi pada ibunya sendiri, Sunan Ambu. Pertemuan antara keduanya di sebuah hutan, tapal batas antara alam manusia
dengan alam lian, merupakan pertemuan kosmis antara manusia dan yang lian (the other). Perkawinan kedua tokoh itu, lalu kemudian memimpin sebuah kerajaan
mengandung arti bahwa raja dan ratu adalah dua simbol dari dua entitas kekuatan yang lengkap dan mutlak, alam atas telah menyatu dengan alam bawah. Hal yang menarik dari cerita pantun ini adalah pertentangan antara isi cerita pantun dan kosmologi pada zamannya, yaitu kosmologi yang dipengaruhi oleh system kepercayaan Hindu-Budha-Sunda. Kosmologi yang berlaku menggambarkan bahwa dunia kayangan dikuasai oleh perempuan, Sunan Ambu, dunia manusia dikuasai oleh laki-laki. Akan tetapi dalam pantun ini sebaliknya, kayangan diwakili oleh laki-laki (Lutung Kasarung) dan dunia manusia diwakili oleh perempuan (Purba Sari). Oleh sebab itu, cerita pantun tersebut dianggap paling sakral dan tidak semua juru pantun bersedia menuturkannya ((Sumardjo, 2003:173).
Kata Kunci: lutung kasarung, sangkuriang, déng, mitos, novel
No comments:
Post a Comment