Angklung Buncis Cigugur Kabupaten Kuningan Dan Cireundeu Kota Cimahi/ Nanang Jaenudin.
Topik penelitian ini merupakan suatu perbandingan kesenian Angklung Buncis pada dua masyarakat adat di Cigugur Kabupaten Kuningan dan Cireundeu. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif.
Angklung Buncis merupakan salah satu unsure seni yang tidak dapat dipisahkan dalam aktivitas budaya masyarakat adat cigugur dan cireundeu. Menurut sejarahnya, masyarakat adat cigugur dan cireundeu memiliki akar kepercayaan yang sama, yaitu Agama Djawa Sunda yang didirikan Kyai Madrais. Angklung Buncis oleh masyarakat adat Cigugur dipertunjukan dalam berbagai kegiatan dan salah satunya dalam upacara ritual yang disebut Seren Taun.
Sedangkankan masyarakat adat Cireundeu juga mempertunjukan Angklung Buncis dalam berbagai upacara ritual yang salah satunya upacara satu Sura yang disebut upacara tutup taun ngemban taun. Angklung buncis bahkan telah menjadi ikon bagi masyarakat adat Cireundeu, khususnya dalam bidang kesenian, disamping makanan pokok mereka yang berbahan dasar singkong yang disebut ‘rasi’.
Dilihat dari teksnya yang meliputi: bentuk pertunjukan, repertoar, instrumentasi, pemain, teknik, dan struktur pertunjukan, dan konteks dari Angklung Buncis Cigugur dan Cireundeu, keduanya memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaan dari keduanya lebih banyak apabila dibandingkan dengan perbedaanya. Persamaannya meliputi; bentuk pertunjukan, reportoar, instrumentasi, pemain, teknik pertunjukan, dan konteks pertunjukan. Sedangkan perbedaannya meliputi: repertoar, instrumentasi, pemain dan struktur pertunjukan.
Persamaan Angklung Buncis yang hidup pada masyarakat Adat Cigugur Kabupaten Kuningan dan Cierundeu Kota Cimahi, dilatarbelakangi oleh hubungan dalam hal keyakinan dan ajaran-ajaran para pendahulunya. Angklung Buncis bagi masyarakat Adat Cigugur dan Cireundeu, dipahami sebagai bagian dari Pikukuh Tilu yang merupakan inti dari ajaran Agama Djawa Sunda.
Hasil penelitian menunjukan bahwa menurut sejarah, masyarakat adat Cigugur dan Cireundeu memiliki akar kepercayaan yang sama, yaitu; Agama Djawa Sunda yang didirikan Kyai Madrais. Angklung Buncis oleh masyarakat adat Cigugur dipertunjukan dalam upacara ritual yang disebut seren taun. Sedangkan masyarakat adat Cireundeu mempertunjukan Angklung Buncis dalam upacara Tutup Taun.
Kata Kunci: Angklung Bunci, Masyarakat Adat Cigugur, Masyarat Adat Cireundeu.
No comments:
Post a Comment